Selasa, 31 Januari 2012

Tahapan Ukhuwah dalam Islam

Imam Hasan Al Banna mengatakan, “Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan; tidak ada persatuan tanpa cinta kasih; minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri).”[1]
Al Akh yang tulus,” lanjut beliau, “Melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama daripada dirinya. sendiri, karena ia, jika tidak bersama mereka, tidak dapat bersama yang lain. Sementara mereka, jika tidak dengan dirinya, dapat bersama dengan orang lain. Dan sesungguhnya serigala hanya makan kambing yang terlepas sendirian. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu mengokohkan yang lain.”[2]
Ukhuwah dalam gerakan da’wah akan mengokohkan dan memantapkan pijakan serta gerak langkah jama’ah dalam mewujudkan proses perjuangan mewujudkan tujuan-tujuan da’wah. Jumlah anggota yang banyak dalam jama’ah perlu diikat dengan ikatan ukhuwah yang kokoh untuk menyatukan jalan dan meminimalisasikan friksi internal yang dikarenakan perbedaan pandangan dalam masalah-masalah cabang.
Imam Hasan Al Banna menetapkan tiga pilar ikatan ukhuwah, yakni ta’aruf, tafahum, dan takaful. Tentang ta’aruf, saling mengenal, beliau menasihatkan untuk saling mengenal dan saling berkasih sayang dengan ruhullah, menghayati makna ukhuwah yang benar dan utuh di antara sesama anggota, berusahalah agar tidak ada sesuatu pun yang menodai ikatan ukhuwah, dan menghadirkan selalu bayangan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits tentang ukhuwah.
Tentang tafahum, saling memahami, beliau berpesan bahwa ia adalah pilar kedua dalam ukhuwah. Beliau menasihati untuk istiqamah dalam manhaj yang benar, menunaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya, dan tinggalkan apa-apa yang dilarang, melakukan evaluasi diri dengan evaluasi yang detail dalam hal ketaatan dan kemaksiatan, setelah itu bersedia menasehati saudaranya yang lain begitu aib tampak padanya. Hendaklah seseorang menerima nasehat saudaranya dengan penuh rasa suka cita dan ucapkan terima kasih padanya.
Tentang takaful, saling menanggung beban, yang merupakan pilar ketiga, beliau berpesan agar saling memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah fenomena konkret iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebagian dari mereka senantiasa bertanya kepada sebagian yang lain (tentang kondisi kehidupannya). Jika didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberi pertolongan selama ada jalan untuk itu, serta menghadirkan di dalam benak tentang hadits-hadits tentang tolong menolong dan fadhilahnya.[3]
Tingkatan tertinggi dalam berukhuwah adalah itsar, yakni mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingannya sendiri.
Sedikit berbeda dengan Imam Hasan Al Banna, Dr. Abdul Halim Mahmud menyebutkan tahapan-tahapan ukhuwah sebagai berikut: ta’aruf (saling mengenal), ta’aluf (saling bersatu), tafahum (saling memahami), ri’ayah atau tafaqud (perhatian), ta’awun (saling membantu), dan tanashur (saling menolong).
Ta’aluf berarti bersatunya seorang muslim dengan muslim yang lainnya, atau bersatunya seseorang dengan orang lain.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)
Pengertian ri’ayah atau tafaqud adalah, hendaklah seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranyanya tersebut memintanya, karena pertolongan yang merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Di antara bentuk perhatian adalahmenutupi aib saudara muslimnya, berusaha menghilangkan kecemasannya, meringankan kesulitan yang dihadapinya, dan membantunya dalam memenuhi kebutuhan, serta menjalankan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Islam atasnya untuk saudaranya itu.
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Hak seorang muslim yang harus dipenuhi oleh muslim yang lain ada enam.” Ditanyakan, “Apakah keenam hak itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Jika engkau berjumpa dengannya, maka ucapkanlah salam; jika ia mengundang, maka penuhilah undangannya; jika ia meminta nasihat kepadamu, maka nasihatillah ia; jika ia bersin lalu memuji Allah, maka ucapkanlah yarhamukallah; jika ia sakit, maka kunjungilah; dan jika ia mati, maka antarkanlah jenazahnya.” (HR Muslim)
Tanashur masih sejenis dengan ta’awun, tapi memiliki pengertian yang lebih dalam, luas, dan menggambarkan makna cinta dan kesetiaan. Seseorang tidak akan menjerumuskan saudaranya, kepada sesuatu yang buruk, tidak pula membiarkannya saat ia meraih suatu maslahat yang tidak membahayakan orang lain; mencegah dan menolongnya dari bisikan setan; menolongnya dari orang yang menghalanginya dari hidayah; serta menolongnya saat menzhalimi dan dizhalimi.
Beliau mengatakan, “Ukhuwah dalam islam menempati posisi yang tinggi, tidak ada suatu perkara yang melampauinya, karena ia merupakan batu-bata bagi tegaknya bangunan perjuangan Islam. Kita tidak bisa membayangkan bahwa ada suatu aktivitas untuk memperjuangkan Islam yang bisa dilakukan oleh seseorang secara individu bisa memberikan hasil yang memuaskan, dalam arti bisa mewujudkan sasaran  terbesar dari aktivitas ini, yaitu kemenangan Allah di muka bumi. Demikian pula aktivitas yang dilaksanakan sejumlah orang, jama’ah, atau beberapa jama’ah tidak mungkin berhasil, kecuali di antara mereka terjalin hubungan ukhuwah dalam Islam yang akan membantu terwujudnya sikap saling memahami, saling membantu, dan saling menolong. Atas dasar itu semua, Islam menjadikan persaudaraan dalam iman sebagai asas aktivitas perjuangan menegakkan agama Allah di muka bumi ini.”[4]

sumber:
alghonilany.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar