Kamis, 26 Januari 2012

URGENSI TARBIYAH ISLAMIYAH

Setidaknya ada dua alasan mengapa tarbiyah Islamiyah menjadi hal yang sangat penting. Pertama, ditinjau dari aspek internal ajaran Islam, dan kedua, ditinjau dari aspek individu umat Islam.

A. Aspek Internal Ajaran Islam
Rasul diutus oleh Allah ke dunia ini adalah untuk mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan, dan menjadikannya sebagai khairu ummah. Untuk melaksanakan tugas ini, Rasulullah melaksanakan sebuah metode pendidikan (tarbiyyah) yang bermula dari tilawah, kemudian tazkiyyah, dan setelah itu ta’limul kitab wal hikmah (2:151, dan 62:2).
Metode ini kami anggap paling tepat (atau bahkan baku) sebab, ketika Nabi Ibrahim AS berdoa kepada Allah: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka (anak cucu kami) seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (2:129), Allah menjawabnya dengan; “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu, mensucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al Hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa-apa yang belum kamu ketahui” (2:151). Pada do’a Nabi Ibrahim ta’limul kitab wal hikmah mendahului tazkiyyah dan pada jawaban Allah tazkiyyah mendahului ta’limul kitab wal hikmah. Metode ini terbukti mampu mencabut akar-akar kejahiliyahan dari dada ummat dan kemudian menjadikannya sebagai ummat yang terbaik.
Setelah jahiliyyah berhasil ditumbangkan pada masa rasul, ada yang beranggapan bahwa jahiliyyah tidah akan pernah muncul lagi. Seolah-olah, menurut mereka, jahiliyyah merupakan salah satu fase sejarah yang telah lampau dan tidak akan terulang lagi.
Salah bukti adanya anggapan (pandangan) ini adalah adagium yang dikembangkan oleh Dunlop, yang menyatakan: “Orang-orang Arab pada masa jahiliah suka menyembah patung dan berhala, menguburkan anak perempuan hidup-hidup, suka minum khamr dan main judi, suka merampok dan menodong. Lalu datanglah Islam untuk melarang semua itu.”
Apa yang salah dari ungkapan di atas? Selintas ungkapan itu benar adanya. Islam diturunkan untuk menghancurkan kejahiliahan. Tetapi kalau dicermati secara lebih teliti, ungkapan yang dimuat dalam planning pendeta yang datang ke Mesir pada masa pendudukan Inggris itu, mengandung maksud untuk menggambarkan bahwa misi Islam telah selesai dan tak ada lagi peranan yang bisa dilakukan oleh Islam untuk kaum muslimin dan umat manusia lainnya.
Kalau sekarang umat menengok ke sekelilingnya, mereka tidak akan menemukan patung-patung sebagaimana yang disembah oleh orang Arab Jahiliah. Mereka juga tidak akan mendapati orang yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup. Lebih dari itu, mereka juga akan kesulitan untuk menemukan peminum khamr, pemain judi, dan perampok dalam bentuk tradisionalnya. Dengan hilangnya atribut-atribut kejahiliyyahan tersebut, apa lagi peran yang dapat dimainkan oleh Islam?
Demikianlah, dalam benak mereka, seolah Islam telah kehilangan misinya dan tak mungkin lagi melakukan peran baru. Sebab jahiliah, menurut mereka, telah berlalu dengan dibawanya Islam oleh Muhammad saw, sehingga sekarang ini tidak ada lagi jahiliah.
Benar, kalau kita melihat tampilan luarnya saja. Penyembahan patung-patung tidak ada lagi, anak-anak perempuan tidak lagi dikubur hidup-hidup, bahkan anak-anak perempuan diperjuangkan persamaan haknya. Tetapi kalau kita lihat tampilan dalam (hakikat/substansi) jahiliah itu, niscaya kita akan menjumpai bahwa kejahiliyahan pada zaman modern ini telah tampil dengan kuantitas dan kualitas yang jauh melebihi kejahiliahan Arab sebelum Islam.
Penyembah patung-patung mungkin telah tiada tetapi penyembah berhala-berhala maknawi (segala sesuatu yang berstatus berhala) jumlahnya telah melebihi setengah jumlah manusia dunia. Orang yang membunuh anak-anak perempuannya mungkin juga telah tiada, tetapi orang yang “membunuh” anak perempuannya dengan cara yang sangat canggih -yaitu dengan cara memberikan “kebebasan” dalam model pakaian, pergaulan, dan kebebasan lainnya- jumlahnya sangat besar. Demikian pula halnya dengan minuman keras dan judi, bentuk tradisionalnya memang hampir tidak ada lagi tetapi bentuk barunya, luar biasa banyaknya.
Untuk mengenali ada tidaknya jahiliyyah pada sebuah masyarakat, kita tidak dapat hanya mengandalkan pada penilaian tampilan-tampilan luarnya saja. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, penilaian harus dilakukan dengan membandingkan antara kondisi sebuah masyarakat dengan ciri-ciri khusus yang melekat pada masyarakat jahiliyyah. Ciri-ciri tersebut adalah; jahl (kebodohan), dzillah (kehinaan), faqr (kefakiran), dan tanafur (perpecahan).
Menurut istilah Al Quran, jahl mengandung makna tidak mengetahui hakikat Tuhan, menyangkut jiwa dan perilaku, dan tidak mengikuti apa yang diturunkan Allah. Beberapa contoh dari Al Quran, misalnya pada Al A’raf ayat 138, “Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai ke suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang jahil.’” Yang dimaksud jahil di sini adalah tidak mengetahui hakikat Tuhan sehingga mendorong mereka menyuruh Musa membuat Tuhan berupa patung yang bisa disentuh dan dilihat untuk mereka sembah. Seandainya mereka tahu bahwa Allah Yang Maha Mencipta tak ada yang serupa dengan-Nya dan tak bisa dilihat dengan mata, niscaya mereka tak akan menuntut itu dari Musa.
“Mereka meyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini.” (QS 3:154) Orang jahiliah menduga bahwa seseorang bisa campur tangan bersama Allah menentukan suatu permasalahan. Sementara itu mereka tidak tahu bahwa hanya Allah saja yang mengatur segala sesuatu tanpa ada sekutu dan segala sesuatu itu hanya terjadi atas kehendakNya. Kejahilan mereka adalah pada sifat Allah yang mempunyai kewenangan mutlak.
“Yusuf berkata:’Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.’” (Yusuf: 33). Jahil yang ditakuti Yusuf adalah perbuatan yang menyalahi perintah Allah dan yang diharamkannya.
Pada zaman modern ini betapa banyaknya orang yang menyembah tuhan lain untuk hal-hal “di luar agama”. Dan betapa banyaknya pula orang yang terjerumus dalam perbuatan yang Nabi Yusuf as berlindung kepada Allah untuk tidak melakukannya. Ini adalah sebagian bukti, bahwa orang-orang yang hidup pada zaman modern ini, juga masih mengidap penyakit “jahl”.
Di samping itu, untuk membuktikan bahwa karakteristik jahiliyyah yang lain –dzillah, faqr, dan tanafur- juga melekat sangat erat pada masyarakat di zaman modern ini, juga tidak terlalu sulit. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika Muhammad Qutb menyebutnya sebagai jahiliyyah abad 20.
Itulah pandangan yang benar tentang jahiliyyah. Jahiliah tidak terbatas pada penyembahan patung, mengubur anak perempuan hidup-hidup, minum khamr, main judi atau melakukan perampokan. Semua itu hanya tampilan luar dari Jahiliah di Arab sebelum kedatangan Islam. Adapun jahiliah itu adalah suatu esensi yang darinya muncul tampilan luar tadi. Mungkin saja tampilannya berbeda menurut tempat dan waktu, sebagaimana tercatat dalam sejarah. Jahiliah bisa terulang kapan saja dan di mana saja, bila ada unsur dan sarana yang mendukungnya. Namun esensinya tetap sama, yaitu sama-sama tidak mengetahui hakikat Tuhan dan tidak mengikuti apa yang diurunkan Allah.
Dan esensi itu, sekarang ini melanda mayoritas manusia penghuni bumi. Artinya, kejahiliahan adalah sesuatu yang nyata pada hari ini yang menunggu kembalinya Islam untuk berperan. Mengembalikan umat manusia dari kejahiliahan, dari kesesatan (dhalalun mubin). “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan nabi itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali Imron : 164
Orang jahiliyah benar-benar sesat. Persis seperti orang yang terus-menerus berputar di dalam kota mencari jalan ke luar kota, tetapi ia tidak mendapatkannya. Ia telah kehilangan kompas dan petanya. Meskipun ia telah seharian mencari jalan keluar, tetap tak menemukannya.
Ia telah merasa menempuh jalan kehidupan dan sampai diujungnya. Tetapi ketika sampai di ujung apa yang dicari ternyata tidak ada di sana. Ia tak menemukannya. Ternyata perjalanan hidupnya telah salah arah. Salah orientasi. Perjalanannya tidak membawa ia kepada arti hidup sesungguhnya. Perjalanannya menjadi tidak berarti. Menjadi kehilangan makna. Itulah yang sekarang juga dirasakan oleh kejahiliahan Barat. Dan juga akan dirasakan oleh umat Islam ketika ia mengikuti arah perjalanan jahiliah Barat, dengan mencampakkan kompas dan peta yang Allah sudah persiapkan.
Untuk mengembalikan perjalanan sejarah kehidupan manusia dari kesalahan arah, diturunkanlah Islam dari sisi Allah SWT yang membawa misi untuk mengeluarkan manusia dari kungkungan lingkaran jahiliah menuju pencerahan kehidupan manusia berlandaskan petunjuk Allah. Sebagaimana telah kami sebutkan di awal pembahasan ini, misi itu direalisasikan dengan suatu proses, sebagaimana firman Allah QS 2:151, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami keapada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. Proses itu adalah tarbiyah Islamiyah atau pembinaan yang terdiri dari langkah-langkah tilawah (membaca/dibacakan), tazkiyah (pembersihan diri) dan ta’limul kitab wal hikmah (Al Quran dan Sunnah)
Hanya dengan proses tarbiyah seperti itulah kita akan memperoleh nikmat yang mengantarkan kita menuju khairu ummah “Kamu adalah sebaik-baik ummah yang dikeluarkan untuk manusia. Kamu menyuruh berbuat kebaikan, melarang berbuat kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110) yang memiliki ciri-ciri; ilmu (pengetahuan/pemahaman), ‘izzah (terhormat), ghina (kekayaan), ukhuwah (persaudaraan).

B. Aspek individu
Dilihat dari sudut individu, manusia membutuhkan tarbiyah islamiyah karena dua hal; 1) hakikat setiap jiwa manusia membutuhkan pembinaan 2) realitas ummat dewasa ini yang terserang virus ghutsai.
1) Hakikat Setiap Jiwa Manusia Membutuhkan Pembinaan
Hakikat jiwa manusia selalu menghadapi dua persoalan, yaitu internal dan eksternal. Secara internal, fitrah jiwa manusia senantiasa berada pada persimpangan jalan, jalan kefasikan dan jalan ketakwaan. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah oarng yang mengotorinya” (91:8-10). Untuk bisa tetap bertahan pada jalan yang lurus (jalan takwa) manusia memerlukan pengawalan ketat secara terus-menerus. Hal ini hanya bisa terlaksana dengan tarbiyah islamiyah, yang senantiasa memastikan setiap individu berjalan di atas jalan ketakwaan.
Kalau boleh diibaratkan, jiwa manusia adalah seperti kereta yang ditarik oleh lima kuda. Kelima kuda itu adalah penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Setiap hari dan setiap saat kereta ini ditarik sesukanya oleh kuda penglihatan, kuda pendengaran, dan kuda-kuda indera lainnya. Kalau jiwa ini dibiarkan saja ditarik secara liar kesana kemari oleh kuda-kuda indera ini, ia akan selalu dalam kondisi kebingungan, tanpa arah, dan tidak tahu tujuan. Nafsu kalau dibiarkan akan menarik manusia menjauhi fitrahnya.
Oleh karena itu, kereta jiwa ini harus dikendalikan oleh kusir yang selalu memegang kendali kuda-kuda liar indera. Ia akan menundukkan pandangan manakala kuda penglihatan menarik kereta jiwa ke jalan mengumbar mata. Ia akan menutup telinga ketika kuda pendengaran mengajaknya mendengarkan perkataan yang mengotori jiwanya. Ia akan menghentikan langkahnya, ketika nafsu berusaha memerosokkan ke jurang dosa. Ia akan mengendalikan semuanya.
Namun itu bukan perkara mudah. Bahkan sang kusir kadang tidak mampu berbuat banyak, ketika kuda-kuda ini menariknya secara liar. Agar sang kusir ini mampu mengendalikan kudanya, ia harus dilatih dan dididik. Ia harus ditarbiyah.
Seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya; “Ketahuilah di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, tetapi jika rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah ia adalah hati.”
Melihat manusia, dikaitkan dengan hadits Rasul di atas, sebaiknya dimulai dari hatinya. Sebenarnya ia adalah makhluq spiritual (ruhani) yang mempunyai pengalaman manusia, dan bukan manusia yang mempunyai pengalaman spiritual. Kalau mau meluruskan arah hidupnya, maka luruskanlah dulu hati dan jiwanya, rahkan ruhaninya, bimbinglah jiwanya, kuatkanlah hatinya. Niscaya perjalanannya akan senantiasa benar. Agar kereta berjalan di jalan yang semestinya, dan tidak masuk ke dalam jurang, latihlah dan didiklah dulu kusirnya. Bimbinglah ia sampai mahir mengendalikan kuda.
Disamping persoalan internal tersebut, secara eksternal Umat Islam menghadapi musuh yang senantiasa menginginkan kekalahan umat islam (2:168-169). Musuh umat islam mengerahkan segala kekuatan dan kemampuannya, mereka membuat berbagai perencanaan dan kemudian merealisasikannya.
Untuk menggambarkan bagaimana musuh Islam ini senantiasa mengerahkan segala kekuatannya untuk menghancurkan Islam, kita simak penuturan ustadz Hasan Al Banna; “Sejalan dengan kekuatannya yang besar dan kekuasaannya yang luas, factor-faktor penghancur secara perlahan namun pasti merasuk ke sela-sela kehidupan umat qurani ini, ia semakin tumbuh, menyebar dan semakin lama semakin kuat, hingga mampu merobek bangunan ini dan mengikis habis pusat daulah islamiah yang pertama pada abad ke-6 hijriah oleh bangsa Tartar, kemudian yang kedua pada abad ke-14 hijriah. Dua penghancuran itu mewariskan kondisi umat yang bercerai-berai. Mereka hidup di negara-negara kecil yang sulit menuju kesatuan dan bangkit kembali.”
Aspek social, “orang-orang Eropa telah bekerja keras untuk menenggelamkan seluruh negeri Islam yang mereka kuasai dengan gelombang kehidupan materialis dengan gaya hidup rusak dan virus-virus yang mematikan. Mereka menjerumuskan negeri-negeri Islam itu ke dalam nasib buruk di bawah kekuasaannya. Disamping itu, Eropa berambisi kuat untuk memonopoli berbagai unsur kebaikan dan kekuatan ilmu pengetahuan, industri, dan system yang bermanfaat. Mereka telah membuat rencana dan melaksanakan langkah-langkah perang jenis ini secara sempurna dengan dukungan kelicikan politik dan kekuasaan militer hingga tercapailah apa yang mereka inginkan.”
“Gelobang itu menyebar secepat kilat sampai ke tempat-tempat yang belum terjamah sebelumnya dan menyentuh jiwa seluruh lapisan masyarakat. Musuh-musuh Islam telah berhasil menipu kaum intelektual muslim. Mereka letakkan tabir yang menutupi mata orang lain agar tidak bisa melihat mereka yang sebenarnya, dengan cara mengambarkan Islam dengan gambaran terbatas pada masalah-masalah aqidah, ibadah dan akhlaq, di samping spiritual, mistik, khurafat, dan berbagai fenomena keagamaan yang kering tak jelas sumbernya. Tipu daya ini ditopang dengan kebodohan kaum Muslimin terhadap agama mereka sehinga banyak di antara mereka yang merasa senang, tenteram, dan puas dengan persepsi tersebut. Persepsi tersebut melekat amat lama pada diri mereka hingga sulit memahamkan salah seorang di antara bahwa Islam adalah sebuah system social sempurna yang mencakup semua aspek kehidupannya.”
Hasil perpaduan “yang serasi” antara kebodohan ummat Islam dan tipu daya musuhnya adalah krisis ekonomi, krisis politik (hegemoni dan diktatorisme), krisis jati diri, pemikiran dan referensi, seperti yang kita saksikan pada hari-hari ini.
Untuk dapat keluar dari krisis multidimensional ini, diperlukan suatu kerja keras dan cerdas yang dibingkai dalam wadah amal jamai (kerja sama). Dan amal jamai tidak akan wujud kecuali apabila diawali dengan proses tarbiyah islamiyah para pendukungnya.

2) Realitas Ummat Dewasa Ini Yang Terserang Virus Ghutsai.
Seharusnya umat ini berjaya, dan memang mereka dilahirkan ke dunia untuk itu. Tetapi dewasa ini, kenyataannya tidaklah demikian. Kaum muslimin kini terpuruk dan terpinggirkan. Hampir di seluruh sisi kehidupan, mereka kehilangan peran utama. Umat ini lebih mirip dengan buih yang tidak punya arus. Persis seperti apa yang pernah diprediksi oleh Rasul.
“Akan datang suatu masa di mana umat-umat lain akan memperebutkan kalian, sama seperti anjing-anjing yang memperebutkan makanan” demikian rasul pernah bersabda kepada para sahabatnya. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kita sedikit ketika itu?” Rasulullah menjawab, “(Tidak) bahkan ketika itu sangat banyak, tetapi kalian itu bagai buih yang mengapung di atas arus air. Sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan sungguh Allah akan menanamkan wahn dalam hati kalian.” Salah seorang bertanya, “Apakah wahn itu wahai Rasulullah”? Rasululllah menjawb, “Cinta dunia dan takut mati.”
Penjelasan rasul ini menggambarkan secara gamblang bahwa sebab kelemahan dan kehinaan suatu kaum adalah kelemahan hati dan jiwa. Hati mereka kosong dari karakter luhur dan mulia, sekalipun jumlah mereka banyak dan secara materi mereka melimpah.
Itulah “virus” mematikan, yang lazim disebut virus buih (ghutsai). Virus ini membuat ummat islam menjadi ringan timbangannya, sehingga menjadikannya tidak punya arus. Virus ghutsai menyebabkan kaum muslimin menjadi santapan yang nikmat bagi para taghut (musuh-musuh Allah SWT). Penyebab timbulnya virus ghutsai ini adalah kecintaan kaum muslimin kepada dunia sekaligus membenci kematian.
Sesungguhnya suatu ummat yang telah terbuai dalam kenikmatan, terbuai oleh kemewahan, tenggelam dalam kemilau harta, tertipu pesona dunia, dan lupa kepada kemungkinan menghadapi tragedy dan kekerasan, serta perjuangan menegakkan kebenaran; kepada umat seperti itu, tinggal dikatakan kepada mereka, “Selamat jalan untuk kehormatan dan cita-cita.”
Berlarutnya krisis yang merundungi negeri ini merupakan contoh yang terlalu jelas untuk dilewatkan. Kita tidak perlu melihat secara detail bagaimana rakyat banyak telah terjangkiti penyakit jiwa ini. Cukuplah kita perhatikan bagaimana para pembesar negeri. Jangankan berkorban untuk mengangkat umat dan bangsa dari kehinaan, para pembesar itu justru mengeruk kekayaan rakyat dan memasukkan ke pundi-pundi kekayaan pribadi dan golongannya. Kekuasaan yang ada pada mereka tidak dipergunakan untuk melanyani umat, justru mereka memposisikan diri sebagai yang harus dilayani. Jiwa pengorbanan merosot ke titik nadir, dan memunculkan jiwa mencari korban.
Perilaku para pemimpin ini dituruti oleh generasi yang lebih muda. Mereka menjadi generasi yang kehilangan semangat juang dan berkorban untuk mengemban misi mulai kehidupan. Sementara itu mereka terlena oleh kenikmatan remeh-temeh, kesenangan sesaat. Mereka menjadi generasi hasil didikan generasi pendahulunya, sehingga hasilnya setali tiga uang, tidak terlalu jauh berbeda dengan seniornya.
Sekedar contoh, lihat apa yang terjadi. Dalam tiga tahun, pengguna narkoba di Jakarta mengalami peningkatan luar biasa, 400 persen. Tercatat, tahun 1996 ada 1.729 pengguna narkoba dan pada tahun 1999 naik menjadi 8.823 orang. Remaja di Jakarta dalam sehari membelanjakan uangnya sekitar Rp1,3 milyar hanya untuk membeli ekstasi, shabu-shabu, narkotika, dan obat-obatan terlarang lainnya.
Sebanyak 200 sekolah dari 600 SLTA di Jakarta telah masuk daftar hitam penyalahgunaan narkoba selama tahun 2000. Selain itu sebanyak 181 sekolah dari 600 SLTP juga tercantum dalam daftar hitam tersebut. Sekitar 1.200 pelajar SLTA tercatat kecanduan. Tidak kurang dari 1.100 pelajar SLTP terjerat kasus penyalahgunaan narkoba
Bercermin dari kondisi di atas, wajar memang kalau kemudian umat ini menjadi umat yang mempunyai hati yang lembek, loyo dan tidak berbobot. Maka menjadi semakin banyak bukti dari prediksi Rasulullah di atas.
Itu baru sekedar dilihat dari sisi moral. Kalau saja kita mau melihat secara lebih luas dan detail, niscaya kita akan semakin mengerti mengapa umat ini menjadi seperti buih yang tidak mampu membuat arus dan terjebak dalam krisis multi dimensional. Sisi ekonomi, perundangan, teknologi, pendidikan adalah bagian lain letak kelemahan umat, yang semakin menambah ketidakmampuannya membuat arus peradaban dunia.
Untuk menterapi virus tersebut, kita membutuhkan terapi yang disebut tarbiyah. Dengan proses tarbiyah, insya Allah akan menambah berat timbangan dan membuat arus, sehingga kita mampu menghancurkan taghut.

Solusi Islam
Semua alasan tersebut menjadikan tarbiyah menjadi penting dan urgen. Kegagalan pendidikan (sekolah) dalam mencetak kader-kader umat dan bangsa, membuat kita bertanya. Apa yang salah dengan system pendidikan kita?
Pendidikan telah mengalami penyempitan makna sekadar menjadi pengajaran dan pelatihan. Pembinaan, tarbiyah, pendidikan tidak identik dengan pengajaran dan pelatihan. Pelatihan itu berurusan dengan praktik, dengan belajar melakukan. Pengajaran lebih kepada transfer pengetahuan atau proses mengembangkan potensi intelektualitas. Sementara pendidikan, pembinaan dan tarbiyah adalah proses untuk menemukan dan kemudian mengaktualisasi segenap potensi diri manusia. Pembentukan karakter-karakter mulia manusia seperti integritas, tekad kuat, jujur, kerendahan hati, kesetiaan, keadilan, kesabaran, kesungguhan, lapang dada dan karakter mulia tidak lainnya mungkin dilakukan dengan pengajaran, ia hanya bisa dilakukan dengan pembinaan, pendidikan dan dilatih.
Yang terlupakan oleh metode pendidikan dewasa ini adalah bahwa manusia tidak saja mempunyai fisik dan pikiran, tetapi juga mempunyai hati. Ini yang jarang atau bahkan tidak pernah disentuh dalam dunia pendidikan. Bahkan barangkali dipandang tidak ada hubungan antara fisik dan akal dengan hati. Bukankah ini cara memandang manusia secara keliru?
Dibutuhkan suatu pendekatan yang komprehensif dalam mendidik umat. Hal terpenting yang harus menjadi perhatian pertama dalam mendidik umat adalah mengupayakan kebangkitan spiritual, kebangkitan ruhani, kehidupan hati, kebangkitan hakiki manusia dan perasaannya. Tidak cukup menjejali manusia dengan pengetahuan. Ia hanya akan menjadi orang yang tahu, punya pengetahuan. Tetapi kemauan seseorang untuk merealisasi pengetahuan menjadi karakter dan akhlaq diri tidak diperoleh dari pengajaran. Diperlukan wadah dan hati yang kuat dalam diri manusia yang akan diisi pengetahuan, agar bisa mendorongnya menjadi manusia yang mempunyai karakter luhur dan mulia.
Penting untuk menengok kepada Guru Besar Kehidupan, Rasulullah saw, bagaimana beliau mampu mendidik dan membina generasi terbaik umat manusia yang pernah dilahirkan di muka bumi ini. Yang kemudian dari mereka nantinya dua imperium adidaya kala itu, Romawi dan Persi, bisa ditundukkan. Yang kemudian dari generasi ini memunculkan generasi yang memperbarui peradaban dunia. Memuliakan kemanusiaan manusia dan mengeluarkan dari kebinatangan manusia. Membebaskan manusia dari belenggu ikatan materi menuju ikatan ketauhidan.
Penting untuk disimak apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membina dan mentarbiyah para sahabatnya, yaitu bahwa Rasulullah membina dan mempersiapkan para sahabatnya dengan pembinaan yang menyentuh seluruh aspek kehidupannya: ruhani, jasmani dan fikiran. Dan untuk membina kekuatan ruhani, kekokohan jiwa, pancaran spiritual, sampai-sampai dibutuhkan waktu paling tidak 13 tahun. Sebelum akhirnya Rasul mengajarkan aspek-aspek lain dari kehidupan ini. Dilihat dari sudut pandang seperti ini, bukankah apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang saat ini dalam mendidik umat menjadi terbalik?
Para pengikut Rasulullah dibentuk dan diproses melalui Tarbiyah Islamiyah yang merealisasikan ‘ubudiyahnya hanya kepada Allah saja; ‘ubudiyah yang meliputi i’tiqad, ibadah dan aturan yang benar-benar diterapkan dalam segala aktivitas hidup mereka. Proses ‘ubudiyah seperti ini akan membersihkan jiwa, hati, dan spiritualitas mereka dari beriman kepada selain Allah dan meluruskan aktivitas mereka dari orientasi yang lain daripada Allah semata-mata.
Mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Rasul, kebangkitan kembali umat ini memerlukan tarbiyah islamiyah. Model pembinaan yang komprehensif untuk membangkitkan umat dari keterpurukannya. Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang mengandung arti kurang lebih penjagaan, pengasuhan dan pendidikan. Tarbiyah Islamiyah adalah penjagaan, pengasuhan dan pendidikan berasaskan Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Sumber-sumber ini adalah sumber-sumber rabbani. Dengan sumber inilah generasi sahabat dididik oleh Rasulullah SAW sehingga melahirkan generasi rabbani yang mendapat julukan dan pujian dari Allah: “Kamu adalah sebaik-baik ummah yang dikeluarkan untuk manusia. Kamu menyuruh berbuat kebaikan, melarang berbuat kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)
Tarbiyah ingin mewujudkan kondisi yang kondusif bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidup di akhirat dengan naungan ridho dan pahala Allah swt. Tarbiyah membentuk pribadi muslim yang mempunyai karakteristik: mempunyai aqidah yang lurus, ibadahnya benar, akhlak terpuji, fikiran yang kaya dengan ilmu, tubuh yang kuat, mampu berusaha untuk mencari rizki, mampu mengendalikan hawa nafsu dan mau melakukan mujahadah pada dirinya, memiliki waktu dengan teratur, urusan dan pekerjaannya ditata dan diatur dengan disiplin, dan bermanfaat bagi orang lain.
Tarbiyah adalah proses penyiapan manusia yang shalih, agar tercipta suatu keseimbangan dalam potensi, tujuan, ucapan, dan tindakannya secara keseluruhan. Keseimbangan potensi artinya kemunculan suatu potensi tidak boleh memandulkan potensi yang lain atau untuk memunculkan potensi yang satu dimandulkan potensi yang lain. Juga keseimbangan antara potensi ruhani, jasmani, dan akal pikiran; keseimbangan antara keruhanian manusia dan kejasmaniannya.
Tarbiyah mendorong seseorang untuk memiliki dinamika yang tinggi di seluruh kehidupannya bersama diri dan orang-orang yang ada disekitarnya, bahkan lingkungan alam sekitarnya. Tarbiyah istimewa karena mampu mengiringi fitrah manusia dalam menghadapi realitas hidupnya di bumi dan alam materi.
Tarbiyah islamiyah merupakan cara ideal berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (dengan kata-kata) atau tidak langsung (berupa keteladanan dan sarana yang lain), untuk memproses perubahan dalam diri manusia menjuju kondisi yang lebih baik. Secara global tarbiyah islamiyah bertujuan membangun kepribadian Islam yang integral dalam segala sisi-sisinya, khususnya dalam sisi aqidah, ibadah, ilmu pengetahuan, budaya, akhlaq, perilaku, pergerakan, keoganisasian dan manajerial, sehingga seluruh kegiatan tarbiyah akan mengembangkan potensi ruhani, jasmani dan akal pikiran manusia.
Coba cermati firman Allah yang menciptakan manusia beserta segala kehidupannya, di surat Ali Imran 164: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Senada dengan ayat tersebut adalah surat Al Baqarah ayat 151: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” Atau ayat 2 surat Al Jumuah: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang yang nyata.”
Banyak sisi yang bisa dilihat dari membaca ayat-ayat di atas. Dari sisi tarbiyah islamiyah kita bisa mengambil makna bahwa sebelumnya kaum mukmin ini benar-benar tersesat. Mereka menuhankan batu-batu yang dianggapnya bisa memberikan kebaikan dan mencegah keburukan dari mereka. Gaya hidup hedonisme orang Arab jahiliyah yang berkecenderungan kepada materialisme duniawi, tergambar dalam salah satu syair Tarafah pra Islam:
Cari aku di kumpulan orang-orang, kau akan menemukan aku di sana
Buru aku di kedai minuman, kau akan menangkapku di sana
Datangi aku di pagi hari, akan kuberi kau secangkir penuh anggur. Bila kau menolak, tolaklah sesukamu dan jadilah penghibur yang baik.
Syair di atas menunjukkan kebiasaan minum orang Arab jahiliyah yang merupakan sumber kenikmatan. Kira-kira tidak berbeda dengan kebiasaan banyak orang jahiliyah masa kini.
Kemudian diutuslah Rasul untuk membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum diketahui. Diutuslah Rasulullah untuk mentarbiyah, mendidik dan membina masyarakat arab jahiliyah. Mensucikan jiwa mereka, mengisi hati mereka, menguatkan ruhani, mengajarkan kepada mereka ayat-ayat Allah, memutuskan ikatan-ikatan duniawi kemudian mengikatkan kepada ikatan aqidah. Menumbuhkan perasaan takut kepada Tuhannya, perasaan rendah di hadapan Tuhan, hidup dengan ketinggian akhlaq.
Dengan proses seperti inilah generasi terbaik umat ini dilahirkan. Melalui proses ini lahirlah ummat yang akan menjadi dasar penyelesaian problematika kemanusiaan secara keseluruhan. Masalah manusia hari ini tidak akan dapat diurai dan dipecahkan kecuali kembali kepada Islam. Dan Islam tidak akan dapat memainkan perannya kecuali jika terdapat pendukung yang komitmen terhadapnya. Pendukung yang komit terhadap Islam tidak akan dapat diwujudkan kecuali dengan pembinaan, dengan tarbiyah islamiyah.


Model Tarbiah
Pengertian tarbiah Islamiyah, sebagaimana telah disinggung di muka, adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (kata-kata) maupun secara tidak langsung (keteladanan dan sarana lain), untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik. Secara global tarbiah Islamiah bertujuan membangun kepribadian Islam yang integral dari segala sisinya, khususnya sisi aqidah, ibadah, ilmu pengetahuan, budaya, akhlaq, perlilaku, pergerakan, keorganisasian dan manajerial, sehingga seluruh kegiatan tarbiah akan mengembangkan potensi ruhani, jasmani, dan akal manusia. Tujuan akhir tarbiah adalah menyiapkan seseorang untuk dapat mengemban tanggung jawab da’wah dan menghadapi rintangan dalam da’wah.
Sasaran tarbiah
Sasaran tarbiah untuk tingkat individu mencakup sepuluh point yaitu; salimul aqidah, setiap individu dituntut untuk memiliki kelurusan aqidah yang hanya dapat diperoleh melalui pemahaman terhadap Al Quran dan As-Sunnah
Shahihul ibadah, setiap individu dituntut untuk beribadah sesuai dengan petunjuk yang disyariatkan kepada Rasulullah saw. Pada dasarnya, ibadah bukanlah ijtihad seseorang karena ibadah itu tidak dapat diseimbangkan melalui penambahan, pengurangan atau penyesuaian dengan kondisi kemjuan zaman.
Matinnul khuluq, setiap individu dituntut untuk memiliki ketangguhan akhlaq/karakter sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu dan syahwat.
Qadirun ‘alal kasbi, setiap individu dituntut untuk mampu menunjukkan potensi dan kretivitasnya dalam dunia kerja.
Mutsaqqaful fikri, setiap individu dituntut untyuk memiliki keluasan wawasan. Artinya, dia harus mampu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengembangkan wawasan.
Qawiyul jism, setiap individu dituntut untuk memliki kekuatan fisik melalui sarana-sarana yang dipersiapkan Islam.
Mujahidun li nafsi, setiap individu dituntut untuk mengendalikan hawa nafsunya dan senatiasa mengokohkan diri di atas hukum-hukum Allah melalui ibadah dan amal saleh. Artinya, ia dituntut untuk berjihad melawan bujuk rayu setan yang menjerumuskan manusia pada kejahatan dan kebatilan.
Munadzam fi syu’unihi, setiap individu dituntut mampu mengatur segala urusannya sesuai dengan keteraturan Islam. Pada dasarnya, setiap pekerjaan yang tidak teratur hanya akan berakhir pada kegagalan.
Haritsun ‘ala waqtihi, setiap individu dituntut untuk memelihara waktunya sehingga dia akan terhindar dari kelalaian. Dengan begitu, diapun akan mampu menghargai waktu orang lain sehingga dia tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan kesia-siaan, baik untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya. Tampaknya, tepat sekali apa yang dikatakan oleh ulama salaf bahwa waktu itu ibarat pedang. Jika ia tidak ditebaskan dengan tepat, ia akan menebas diri kita sendiri.
Nafi’un li ghairihi, setiap individu menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain.
Perangkat tarbiah
Untuk merealisasikan sasaran dalam proses tarbiyah diperlukan berbagai sarana anatara lain; halaqoh, mabit, rihlah, mukhayyam, dan tatskif. Di antara beberapa sarana tarbiyyah tersebut, halaqoh merupakan sarana yang memiliki peran penting karena beberapa alasan;
pertama, dalam tarbiah dengan system halaqoh ini didapatkan kearifan, kejelian, dan langsung di bawah asuhan seorang murabbi. Sehingga setiap kecenderungan dan perubahan yang terjadi segera bisa dipantau dan diarahkan oleh murabbi. Sedang programnya bersumber dari Kitabullah dan sunnah rasul, dengan jadwal yang sudah diatur.
Kedua, tarbiah melalui halaqoh merupakan ‘tujuan yang terkandung dalam perangkat.’ Demikian itu karena penyiapan seorang individu secara islami, pematangan mentalitas, pemikiran, aqidah, dan perilaku merupakan aktivitas yang memerlukan kesinambungan dan kontinuitas, sekaligus menjadi tujuan abadi. Kendati sarana ini termasuk perangkat, namun karena kuatnya keterkaitan dengan tujuan, mengharuskan system ini memiliki kontinyuitas.
Ketiga, sepanjang perjalanan tarbiah, hanya sistem halaqoh yang mampu memantapkan proses penyiapan individu islami secara integral. Oleh karenanya system ini harus tetap berlanjut, meski daulah islam telah berdiri karena ia yang akan menjadi penyuplai kebutuhan pemerintahan akan sumber daya manusia dengan proses yang baik.
Keempat, taruhlah pemerintah dapat menguasai system pengajaran dan informasi, namun keduanya tidak akan mampu mentarbiyah. Meskipun tarbiah yang integral, yang menanamkan dalam jiwa sifat keutamaan, kesungguhan, dan kepekaan terhadap tanggung jawab memang berhubungan erat dengan proses pengajaran dan informasi.
Kompetensi Tarbiah
Diperlukan kajian yang komprehensif untuk mendorong terealisasikannya sasaran tarbiah, yang meliputi seluruh segi yang memungkinkan mencuatnya segala potensi kebaikan. Secara garis besar ada empat kelompok kajian, yaitu; dasar-dasar keislaman, pengembangan diri, dakwah dan pemikiran islam, serta social kemasyarakatan.
Dasar-dasar keislaman mencakup al qur’an dan ulumul qur’an, hadist dan ulumul hadits, aqidah, fiqh, akhlaq, sirah dan kepribadian muslim. Pengembangan diri terdiri dari metodologi berfikir dan riset, belajar mandiri, rumah tangga muslim, manajemen, bahasa arab, kesehatan dan kekuatan fisik, kependidikan dan keguruan. Dakwah dan pemikiran meliputi fiqh dakwah, sejarah dan peradaban umat, dunia islam kontemporer, pemikiran, gerakan dan organisasi pembaharuan, islam dan kekuatan lawan. Dan social kemasyarakatan meliputi tata social kemasyarakatan, perundang-undangan, system politik dan hubungan internasional, ekonomi, seni dan budaya, iptek dan lingkungan, serta isu kontemporer social politik dakwah islam.
Demikian sekilas tentang urgensi tarbiah islamiah, yang dari sana kita berharap kebangkitan umat akan menjadi kenyataan. Untuk merealisasikan kembali julukan indah yang pernah diberikan kepada generasi sahabat, “khairu ummah.”

Wallahu a’lam bisshawab

sumber:

0 komentar:

Poskan Komentar